Praktikum, Etika Komunikasi & Kepemimpinan, How to be a Leader
Nama: Dinnuhoni Trahutomo
NIM: 2209116006
Kelompok 9 (Pegi-pegi)
1. Praktikum Sistem Informasi:
2. Etika Komunikasi dan Kepemimpinan
Who: Komunikasi atau sumber
yang mengirim pesan.
What: Isi pesan.
(In which) Channel: Media.
(To) Whom: Penerima pesan.
(With What) Effect: Efek
media yang ditimbulkan.
- Segitiga Retorika:
Retorika, berasal dari bahasa yunani yaitu
Rhetorica, adalah seni berbicara, asalnya digunakan dalam perdebatan-perdebatan
di ruang sidang pengadilan untuk saling mempengaruhi sehingga bersifat kegiatan
antarpersona. Kemudian berkembang menjadi kegiatan komunikasi massa yaitu
berpidao kepada khalayak.
Retorika adalah ilmu dan seni yang mengajarkan
kepada orang unuk terampil menyusun dan menyampaikan tuturan secara efektif
untuk mempersuasi pihak lain. Tuturan yang efektif adalah memaparkan kebenaran,
disiapkan dan ditata secara sistematis dan ilmiah, mengolah dan menguasai topik
tutur, serta mempunyai alasan pendukung atau argumen.
Teori retorika berpusat pada pemikiran
mengenai retorika yang disebut Aristoteles sebagai alat persuasi yang tersedia.
Maksudnya seorang pembicara yang tertarik untuk membujuk khalayaknya harus
mempertimbangkan tiga bukti retoris: logika (logos), emosi (pathos) dan
etika/kredibilitas (ethos).
Ketiga bukti retoris tersebut disebut sebagai segitiga retorika. Ada 3 aspek dalam segitiga retorika:
1. ETHOS
Ethos adalah komponen di dalam argumen yang
menegakkan kepercayaan pendengar terhadap kompetensi sang pembicara. Dalam
prinsip persuasi bisa termasuk ke dalam prinsip otoritas dan rasa suka.
Wawasan, etika dan karakter orang yang menyampaikan argumen haruslah meyakinkan.
2. LOGOS
Logos adalah isi dari argumen haruslah menggunakan argumentasi logika dan data. Data-data yang disajikan harus akurat dan tidak membingungkan. Informasi yang mendalam namun mudah dipahami akan semakin meningkatkan dimensi ethos dari sang pembicara.
Struktur bahasa yang rasional dan proporsional akan ditangkap dengan jelas oleh pikiran para pendengar. Kejelasan dari alasan-alasan serta bukti-bukti yang kuat akan mendorong pesan dan argumen menjadi semakin persuasif. Persiapan yang matang adalah kuncinya.
3. PATHOS
Pathos adalah sisi daya tarik emosional yang menyertai isi argumen dari sisi logos dan kompetensi komunikator dari sisi ethos. Penyampaian argumentasi dengan pathos inilah yang menguatkan unsur persuasinya. Pathos adalah penentu dari persetujuan pendengar pada pemaparan sang pembicara.
Bujukan yang menyasar kepada segi emosi bisa berupa cara penyampaian pesan yang bersemangat dengan bentuk cerita, analogi, atau metafora untuk mengantarkan nilai-nilai secara empatik. Pembicara bisa juga menggunakan imajinasi, harapan, bahkan ketakutan dari audiens. Kelima prinsip persuasi lainnya bisa dimasukkan disini.
Di sini komunikator dituntut untuk mampu menyesuaikan suasana emosional yang ingin dicapai dalam sebuah persuasi. Komunikator yang cerdas mampu mengendalikan suasana emosi yang diinginkan, bukan apa yang diinginkan khalayak, akan tetapi lebih kepada apa yang diinginkan oleh komunikator itu sendiri.
Dengan mengetahui karakteristik khalayak,
pemahaman yang mendalam terhadap berbagai macam karakter emosi, diharapkan
persuasi yang dilakukan dapat berjalan efektif.
3. How to be a Leader
Pada materi cara menjadi seorang pemimpin, dibawa oleh Bang Arya Sudatra.
- Contoh pemimpin yang baik:
1. Memiliki karakter dan integritas: Memiliki karakter yang kuat dan berbeda dari mayoritas orang dan memiliki integritas.
2. Memiliki visi misi: Punya arah tujuan sendirdalam hidupnya.
3. Rendah hati. Layaknya padi, semakin berisi semakin merunduk.
- Mengapa harus ada pemimpin?
1. Tanpa ada pemimpin, semua orang egois dengan pikiran dan pendapatnya masing-masing.
2. Penentu arah, pemegang kemudi.
Layaknya seorang nahkoda, pilot, atau supir, ia mengarahkan anggotanya ke arah yang lebih baik.
3. Sebagai pelihat & perasa.
Seorang pemimpin harus dan mau memperhatikan situasi dan kondisi anggota kelompoknya serta keadaan yang sedang terjadi.
- Contoh pemimpin yang buruk:
1. Otoriter:
Dominan di dalam kelompok namun berkuasa sendiri atau sewenang-wenang terhadap kelompok/organisasinya sendiri.
Comments
Post a Comment